Adat

Tatacara Pembentukan Lembaga Adat Desa

Lembaga Adat Desa atau sebutan lainnya yang selanjutnya disingkat LAD adalah lembaga yang menyelenggarakan fungsi adat istiadat dan menjadi bagian dari Susunan Asli Desa yang tumbuh dan berkembang atas prakarsa masyarakat Desa.

Lembaga Adat Desa (LAD) dapat dibentuk oleh Pemerintah Desa dan masyarakat Desa.

Persyaratan Pembentukan Lembaga Adat Desa :

  • Berasaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negera Republik Indonesia Tahun 1945;
  • Aktif mengembangka nilai dan adat istiadat setempat yang tidak bertentangan dengan hak asasi manusia dan dipatuhi oleh masyarakat;
  • Berkedudukan di Desa setempat;
  • Keberadaannya bermanfaat dan dibutuhkan masyarakat Desa;
  • Memiliki kepengurusan yang tetap;
  • Memiliki sekretariat yang bersifat tetap; dan
  • Tidak berafiliasi kepada partai politik.

Ketentuan lebih lanjut tentang pembentukan Lembaga Adat Desa diatur melalui Peraturan Desa (Perdes).

Tugas Lembaga Adat Desa :

Lembaga Adat Desa (LAD) bertugas membantu Pemerintah Desa dan sebagai mitra dalam memberdayakan, melestarikan, dan mengembangkan adat istiadat sebagai wujud pengakuan terhadap adat istiadat masyarakat Desa.

Fungsi Lembaga Adat Desa :

  • Melindungi identitas budaya dan hak tradisional masyarakat dan unsur kekerabatan lainnya;
  • melestarikan hak ulayat, tanag ulayat, hutan adat, dan harta dan/atau kekayaan adat lainnya untuk sumber penghidupan warga, kelestarian lingkungan hidup, dan mengatasi kemiskinan di Desa;
  • Mengembangkan musyawarah mufakat untuk mengambil keputusan dalam musyawarah Desa;
  • Mengembangkan nilai adat istiadat dalam penyelesaian sengketa pemilikan waris, tanah dan konflik dalam interaksi manusia;
  • Pengembangan nilai adat istiadat untuk perdamaian, ketentraman dan ketertiban masyarakat Desa;
  • Mengembangkan nilai adat untuk kegiatan kesehatan, pendidikan masyarakat, seni dan budaya, lingkungan, dan lainnya; dan
  • Mengembangkan kerja sama dengan Lembaga Adat Desa lainnya.

Jenis dan Kepengurusan Lembaga Adat Desa

Jenis dan kepengurusan Lembaga Adat Desa yang menyelenggarakan fungsi ditetapkan dengan Peraturan Desa (Perdes) dan berpedoman pada Peraturan Bupati/Peraturan Walikota.

Demikian tentang Tatacara Pembentukan Lembaga Adat Desa, sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2018 tentang Lembaga Kemasyarakatan Desa dan Lembaga Adat Desa.

Rumah Adat Guru Mada

Rumah Adat Suku Maomeka

 

Pada zaman dahulu Desa Adobala disebut dengan nama “Kampung Narawayong” yang di huni oleh satu suku yaitu “Suku Gurumada” dengan Kepala Suku namanya “Adobala” (Raja Adobala). Dalam perjalanan perkembangan zaman maka penduduknya makin bertambah yang datang dari berbagai penjuru untuk berlindung pada Tuan tanah dan mengabdi pada Raja dan kemudian diberi tugas oleh Tuan Tanah (Raja) untuk berkuasa dan menguasai bidang tugasnya masing-masing untuk pelayanan dan membangun ketahanan bagi masyarakat/rakyat dalam nuansa Adat dan Budaya Lewo.

Diantara suku-suku yang mendiami Desa Adobala, ada tiga Suku yang berkuasa atas lewotanah Narawayong-Langobelen yaitu :

  1. Suku Gurumada (Lewo Alape)

Berkuasa atas hubungan ke dalam dan ke luar Desa dan berkuasa atas seluruhh wilayah Paji dengan Kepala Sukunya Raja Adobala yang mendiami istana Kerajaan yang lazimnya disebut dengan nama LANGO BELEN = KOKE TARA BALA;

  1. Suku Maomeka (Kebelen Lewo) Diberi tugas dan kuasa untuk menghalau bala / Hama (Jaga Apu- Angin =Lelu Bura);
  2. Suku Muda Ledo (Miden Lewo)

Diberi tugas dan kuasa oleh Lewo Alape sebagai penguasa tanah/wilayah milik Lewo (Jaga Duli Pali = Bau Mime Maroke);

Selain itu masih ada beberapa suku yang mendiami Desa Adobala dengan keahliannya masing-masing dan diberi tugas sesuai dengan tupoksinya masing-masing sebagai alat kelengkapan Lewotanah, sehingga terbentuk sebuah lewo yang di berinama  NARAWAYONG (Desa Gaya Lama) yang lazim disebut dengan nama LANGO BELEN (Rumah Adat Suku Paji) dan atau ADOBALA (Raja Adobala). Untuk mengenang dan melestarikan nama Raja Adobala dan Kerajaan yang lenyap ± tahun 163 (dalam buku sejarah Ata Kiwan) maka pada tahun 1974 nama Desa Narawayong  (Desa Gaya Lama) di ubah menjadi Desa Adobala (Desa Gaya Baru).

Diantara suku-suku yang mendiami Desa Adobala, masing-masing menpunyai simbol adat yang adalah merupakan Ritual Lewo Tanah (Desa Adobala) diantaranya adalah :

  1. Suku Gurumada/Kebelen Lewo
    Simbol adatnya : Rumah adat, Orin Bele dan Nubanara
  2. Suku Maomeka/Mide Lewo
    Simbol adatnya : Rumah adat, Orin Bele dan Nubanara,Koke Bale
  3. Suku Muda Ledo/Mide lali dulhi
    Simbol adatnya : Rumah adat, Orin Bele
  4. Suku Lama Tokan/Mide Suku
    Simbol adatnya : Rumah adat dan Orin Bele
  5. Suku Lama Ewak/Ape Kuun
    Simbol adatnya : Rumah adat dan Orin Bele
  6. Suku Lama Paha
    Simbol adatnya : Rumah adat dan Orin Bele
  7. Suku Bahy
    Simbol adatnya : Orin Bele
  8. Suku Bahan Twelu/Dera Deken/Laba Gikat
    Simbol adatnya : Orin Bele
  9. Suku Uak Tuawolo
    Simbol adatnya : Orin Bele
  10. Suku Kuro Uman
  11. Suku Baowolo
    Symbol Adatnya : Rumah Adat
  12. Suku Riantoby
  13. Suku Lama Riang
  14. Suku Lama Wuran
  15. Suku Riang Hepat

Dari kumpulan suku-suku yang mendiami Desa Adobala ini, secara budaya dibawa kekuasaan pemerintahan tunggal yaitu Suku Gurumada (Lewo Alape).